When Manga Goes To Studio

0

Siapa diantara para pembaca yang tidak mengenal istilah manga? Ya, sebuah komik dari jepang, atau yang ditulis oleh orang jepang, dengan bahasa jepang tentunya. Beberapa manga mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita, One Piece, Naruto, Bleach, dll adalah beberapa manga yang populer di kalangan penggemar manga, termasuk saya. One Piece dan Naruto adalah manga yang nggak boleh ketinggalan bagi saya. Yang lain sih iseng aja, tapi nggak terlalu ngikutin.

Untuk manga-manga yang populer, biasanya ada versi anime-nya, yaitu video animasi dari manga tersebut. Namun tak jarang juga selain dibuat versi anime, ada manga yang dibuat dalam versi film yang diperankan oleh manusia sungguhan. Mungkin saat ini yang sedang hangat-hangatnya adalah film Rurouni Kenshin Live Action. Ya, film yang diadaptasi dari manga samurai-X ini sedang digandrungi oleh para pecinta manga di berbagai belahan dunia.

Disini saya tidak akan membahas filmnya itu sendiri, tapi saya mencoba membandingkan, bagaimana rasanya menonton filmnya setelah membaca komiknya, dan sebaliknya menonton filmnya dulu baru komiknya. Untuk perbandingan ini yang diangkat ada 2 manga, Samurai-X dan Ichi. (more…)

[Buku] Satanic Finance

5

Sudah beberapa waktu ini saya mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan perbankan dan finance. Seperti deposito, safe deposit box, kartu kredit, gadai emas, kredit umum, dll. Dan terutama yang dipelajari tentang uang itu sendiri. Bukan bermaksud untuk menjadi ahli ekonomi, tapi hanya untuk menambah wawasan, dan ternyata wawasan yang bertambah ini complicated. Lha, belum-belum udah bilang complicated, gimana ini, hehehe… :-D

Akhir Desember 2012 ini banyak libur panjang, dikarenakan ada dua harpitnas di bulan ini. Pertama di tanggal 24 dan yang kedua di tanggal 31. Di masa libur itu jadi kesempatan saya untuk jalan-jalan dengan keluarga. Di beberapa kesempatan di waktu libur itu, kami sempatkan untuk mampir ke toko buku. Yah walaupun toko buku di Banda Aceh tidak sebesar di kota-kota besar, tapi untuk koleksi buku yang masuk ke kota ini lumayan juga. Nah sabtu kemaren ini waktu mampir ke toko buku ternyata ada beberapa buku yang menarik untuk dibeli. Salah satunya ya buku dengan judul sesuai judul postingan ini, Satanic Finance.

Buku ini karangan dari Dr. Ahmad Riawan Amin, beliau ex PresDir Bank Muamalat. Sekarang beliau menjadi Direktur IIFM (International Islamic Financial Market). Selama dua hari buku ini langsung saya lahap. Saya tertarik membaca buku ini karena buku ini pernah disebut oleh temen saya yang memang punya wawasan yang luas tentang finance. Jadi begitu liat langsung saya beli saja. :-D (more…)

Ketika Ketemu Dosen

0

Terus terang saya ndak nyangka bisa ketemu sama dosen Teknik Elektro UGM di aceh. Awalnya di kantor ada acara pembahasan TMP se Indonesia Barat. Acaranya dua hari, dan di hari kedua di sesi terakhir itu ada jadwal penyampaian hasil SKP. Untuk yang acara pertama tamunya dari DJK, cuman ndak tau untuk acara kedua siapa tamunya. Nah, nggak sengaja saya baca di daftar tamu yang akan dijemput sama driver kantor untuk acara kedua. Di situ tertulis nama :

  1. Pak Danang
  2. Bu Avrin

Perasaan saya kenal dua nama ini. Saya langsung tanya ke temen, ini orang UGM bukan. Iya jawabnya, dalam hati langsung bilang pantes, kok namanya gak asing. Ya, Pak Danang Wijaya dan Mbak Avrin Nur Widiastuti (saya manggilnya mbak, karena masih muda). 2 dosen dari Teknik Elektro UGM (sekarang dah ganti nama jadi JTETI) yang pernah ngejar walaupun cuma 1 pertemuan. Mbak Avrin 1 matkul di mata kuliah TTLD (kurikulum lama), Pak Danang 1 pertemuan di Studium Generale yang biasanya diberikan kepada mahasiswa yang mau wisuda di KPTU (maklum anak teknik).

Terus terang seneng rasanya, bisa tukar cerita. Jadi tahu kabar terbaru dari temen-temen saya dan juga kabar kampus.  Seperti Pak Sarjiya menjadi kajur, Pak Lukito menjadi wadek, Pak Insap, Pak Muji (laboran lab IF), dll. Yah walaupun ndak ngobrol lama, cuman pas nemenin makan malam, sama di sela-sela presentasi hasil SKP, tapi berasa menyenangkan. Seperti kembali ke dunia kampus di jogja, what a sensation. Buat Pak Danang dan Mbak Avrin, selamat menikmati mie aceh dan kopi aceh, dan semoga bisa bersenang-senang besok di sabang (kalau jadi). :-D

Notes: foto bisa diliat di fb-nya mbak avrin ya. :-D

Welcome to Sabang

Trip to Sabang

0

Welcome to SabangHari Selasa dan Rabu (11 – 12 Des 2012) di kantor kedatangan tamu dari kantor pusat. Tamu tersebut sebagai pembicara dalam acara Sosialisasi Pembayaran Nontaglis yang sekarang tidak lagi dilayani di kantor, tapi di payment point di luar atau melalui atm bank yang sudah memiliki kerja sama.

Nah, kebiasaan tamu-tamu yang datang dari kantor pusat, selain agenda acara pokok tersebut, biasanya ada agenda tambahan yang hampir pasti jadi agenda wajib tamu yang datang ke aceh, yaitu ke sabang. Begitu juga dengan tamu kali ini, dalam agendanya juga sudah ada jadwal untuk main ke sabang. :-D Agenda ke sabang direncanakan sehari aja, yaitu tanggal 12 sore berangkat, baliknya tanggal 13 sore.

Namun di tanggal 12 pagi, ada masalah yang rada mengganjal di kantor, yaitu siapa yang menemani tamu tersebut ke sabang. Sekilas denger temen kontak sana kontak sini untuk ngajak orang buat nemenin ke sabang, karena kalau dia sendiri dia nggak enak khawatir terjadi hal yang “iya-iya”. (devil) Cuman karena tidak ada yang bersedia, akhirnya yang ketiban duriannya jadinya aku. (more…)

Stay Alert!

0

Yah, sesuai judulnya, tetap waspada. Tapi ini pengalaman saya tadi siang ketika naik pesawat dari Banda Aceh ke Jakarta. Kadang ketika bawaan kita sedikit, cuma satu atau dua tas gitu, seringnya barangnya kita bawa ke kabin, tidak dimasukkan ke bagasi. Selain praktis, kita nggak perlu buang waktu untuk menunggu bagasi, bisa langsung cabut keluar bandara.

Biasanya kalau bawa barang ke kabin, pasti kita taruh di atas tempat duduk kita, cuman kadang di tempat lain kalau kabin di atas tempat duduk kita sudah full, bahkan bisa bergeser jauh dari tempat duduk kita, tergantung kabin yang kosong. Walaupun begitu, kadang kita tetep yakin barang kita tetep ada, walaupun posisinya tidak berada di kabin di atas kita. Karena jarang atau bahkan tidak ada penumpang pesawat yang ngambil barang yang bukan bawaannya.

Namun ternyata yang namanya manusia pasti ada salah. Ternyata nggak cuma sandal aja yang bisa ketuker pas sholat di mesjid, tapi tas di kabin bisa ketuker juga. Dan itu kejadian pada diri saya tadi sore. Begitu landing di jakarta, karena posisi seat saya di 8E, dan temen di 8F, kami nunggu sampai sepi aja baru keluar. Kebetulan tas kami taruh di kabin 10 ABC, nah kesalahannya adalah tidak memperhatikan kabin tempat tas kami berada.

Ketika sudah rada sepi, saya mulai ngambil tas. Cuman anehnya kok yang kelihatan cuma tas kamera doang, mana yang tas gedhe-nya. Sementara itu tas temen saya lengkap. Wah gak beres ini, ada yang salah ambil tas ini. Langsung deh lapor ke pramugari, biar dilaporin ke petugas bandara, biar ada sweeping penumpang supaya tas saya ketemu tidak dibawa keluar bandara. Tadinya abis lapor mau langsung turun ngejar penumpang yang turun duluan, nggak taunya disuruh nunggu untuk dipanggilin security bandara.

Abis itu saya diajak ke lost & found baggage-nya maskapai sama security, sambil bawa tas yang tertinggal yang kita curigai sebagai tas punya orang yang salah ambil tas saya. Di tempat lost & found di tanya-tanya duduk di seat berapa, tau orangnya yang ngambil enggak dan lain-lain. Ya karena kabin sama seat beda, dan nggak merhatiin kabin ya kita jadi nggak tau siapa yang ngambil. Sama petugas-nya disuruh tenang, ya saya jawab mana bisa tenang mas. Dalam tas ada laptop, baju, flashdisk, dll. Sebenernya yang bikin gak tenang karena ada laptop, untuk baju mungkin bisa rada ikhlas, nanti beli lagi pikirku. Tapi kalau laptop, wew, bisa nangis darah kalau ilang.

Abis itu diumumin sama petugas bandara, bagi siapa yang merasa tertukar barang bawaannya disuruh melapor ke lost & found, tapi tidak ada yang nampak orang untuk melapor. Saya mondar-mandir ke tempat ambil bagasi dan lost & found, sama merhatiin ke arah pintu keluar, sapa tau ada tas yang mirip dengan tas saya. Setiap tas ransel polo (kebetulan tas saya merknya polo) saya pelototin terus, siapa tau itu barangnya.

Nah, pas muterin tempat ngambil bagasi yang dari banda aceh, sekilas melihat tas ransel polo ditaruh di lantai. Saya liatin terus, untuk memastikan itu tas saya atau bukan. Soalnya tasnya di taruh dengan cara bagian yang nempel punggung di bagian atas, sementara bagian depannya nempel di lantai, jadi nggak keliatan seperti apa model tasnya. Cuman tas saya ini ada ciri khusus, yaitu pada bagian cangklongan (yang disangkutin di tangan) itu sudah rusak. Jadi biar bisa dicangklong itu saya iket aja, dan itu kiri kanan.

Setelah saya dekati ternyata itu cangklongannya rusak, dan itu diiket. Langsung saya samperin itu orang, saya tanya ke orang itu, tasnya ketuker/salah ambil tas ya. Dia bilang iya, dia ngerasa salah, sementara saat itu tas saya langsung saya ambil. Abis itu dia nanya tasnya dia dimana, langsung aku anter ke lost & found. Abis itu dikasih tasnya dia, kemudian di cek, kata dia bener. Aku langsung ngecek laptop, oke laptop masih ada. Abis itu langsung aku cabut, tanpa ngecek barang selain laptop masih ada atau enggak. Karena memang itu yang paling penting, kalau misalkan ada baju yang hilang satu atau dua pun aku nggak masalah, ya paling maki-maki aja abis itu, tapi nggak separah kalau laptop yang ilang. Tak lupa juga ngucapin makasih ke petugas lost & found sama security yang bantuin saya tadi.

Pelajaran yang bisa diambil, walaupun kita nggak langsung keluar pesawat abis landing, tapi kita harus tetep waspada memperhatikan barang bawaan kita. Terlebih kalau barang bawaan kita kabin-nya beda dengan seat kita, harus dipelototin. Kalau perlu perhatikan juga bawaan orang-orang yang keluar duluan. Ada juga saran dari temen saya, mungkin bisa dipisahkan antara barang-barang penting seperti elektronik dengan barang-barang secunder seperti baju dll, untuk meminimalkan resiko kehilangan seperti itu. Oke, sekian dulu cerita saya kali ini, intinya tetap waspada. :-)

Hampir Terkena Penipuan Via Handphone

1

Yak, seperti judul diatas, saya hampir jadi korban penipuan lewat handphone, hehew. Banyak modus operandi penipuan lewat handphone. Salah satunya kita ditelpon mengatasnamakan suatu instansi publik, dan kita diberitahu kalau mendapat hadiah. Kemudian dengan petunjuk si penelpon kita disuruh ke atm dengan catatan telpon tidak boleh terputus. Setelah itu kita disuruh transfer atau apa gitu kepada si penipu untuk pencairan hadiah, tapi setelah itu hadiah tak kunjung tiba, dan uang kita sudah berpindah ke si penipu.

Tak pikir hal tersebut sudah gak model lagi, karena itu sudah lama, dan sekarang jarang terdengar kasus dengan model seperti itu. Tapi ternyata tidak, hal tersebut masih ada, dan itu terjadi pada saya. Jadi ceritanya begini, tadi siang pas istirahat kantor, tiba-tiba handphone saya berbunyi, tapi no name, nggak tau nomer siapa. Setelah saya angkat katanya dari Ind*sat, dengan Bapak Haji siapa gitu lupa namanya, ngasih tau kalau saya menang uang 10 juta plus pulsa 1 juta.

Sebenernya saya nggak yakin, saya meminta dasar ke orang tersebut apakah ini penipuan atau memang beneran, karena saya sendiri kurang yakin, karena yang dipakai bukan telpon rumah, tapi handphone. Ternyata dia bilang diumuminnya tadi malam di Gl*bal tv. Karena semalem gak nonton gl*bal, jadi saya mulai masuk ke perangkap. Mulailah saya diinterogasi, dan saya sempet nyebutin nomer rekening saya. Sampai disini saya belum curiga.

Kecurigaan baru timbul setelah saya disuruh ke ATM terdekat, dan dibilang kalau telponnya nggak boleh terputus. Disitu saya nggak langsung pergi, saya masih bergeming. Saya inget cerita-cerita penipuan seperti itu yang korbannya disuruh ke ATM terus suruh transfer uang ke si penelpon. Tapi saya lanjutin biar lebih clear. Saya tanya kenapa harus ke ATM, jawabannya supaya uangnya bisa langsung dicairkan. Saya bilang ke dia, Pak kalau hanya mengetahui ada uang masuk saya nggak perlu capek-capek ke ATM, di tempat saya berada sekarangpun bisa. Mulailah alasan lain dikeluarkan. Katanya uang 10 juta baru bisa cair kalau pulsa 1 jutanya sudah masuk ke handphone. Saya bales, kalau pulsa kan tinggal di top up aja. Dia jawab lagi nggak bisa pak, harus registrasi di ATM. Pertanyaan saya registrasi apa, perasaan di ATM tidak ada menu registrasi seperti itu. Terus dia bilang harus memasukkan kode-kode dari mereka.

Dari situ saya menyimpulkan ini penipuan. Rencananya saya mau ngerjain si penipu sama sekalian crosscheck ke ind*sat, tapi karena kepepet waktu, saya memang harus segera balik ke kantor, karena jam istirahat sudah selesai dan saya sudah males, saya matiin aja. Yang lucu sama si penelpon dibilang telponnya gak boleh terputus, karena nanti hadiahnya hangus. Tapi ketika nggak sengaja ketutup, ditelpon lagi, terus disuruh pergi lagi ke ATM. Ternyata masih ngarep, hehe…

Terakhir karena males, dan saya dah yakin ini penipuan, saya matiin hapenya. Baru saya nyalain ketika di kantor, dan ternyata dia nggak nelpon lagi, dah nyerah kali ya. Jadi kesimpulannya, modus penipuan lewat handphone, walaupun lama ternyata masih digunakan juga sampai sekarang. So, ingat kata bang napi, waspadalah, waspadalah…

ngOpenSuse, lagi…

0

Ha, ternyata sudah sebulan lebih belum ada coretan baru disini. Malas nulis juga sekarang saya ya, hehe… Tapi ini nggak serius kok, cuma sekedar sharing aja. Sesuai ama judulnya nie, kemaren saya iseng pake opensuse lagi. Setelah sekian lama pake ubuntu, akhirnya mulai minggu ini saya putuskan beralih ke opensuse. Kenapa?

Pertama, di ubuntu saya agak kesulitan menginstall oracle server. Sudah beberapa kali coba install tetap belum berhasil. Pengalaman yang berhasil di distro keluarga redhat, RHEL, CentOS, OpenSuse.

Kedua, karena opensuse saya lumayan familiar daripada RHEL atau CentOS. Untuk install dari repository-nya gampang dibanding yang lain, sebenernya karena untuk RHEL dan CentOS saya install standard saja, karena hanya untuk oracle server saja, selain itu tidak diapa-apain, jadi ndak dioprek, hehe…

Ketiga, ubuntu kalau lama idle, tidak digunakan, ketika digunakan kembali respon sistem terasa agak berat. Atau ketika membuka banyak aplikasi, walaupun aplikasi yang terbuka sudah dikurangi atau dimatikan semua, kadang masih terasa berat. Biar ringan ya direstart lagi, entah desktop effect-nya atau style-nya (lupa namanya :-P ).

Yah, itu beberapa alasan saya mbalik maning ke opensuse. Walaupun belum perfect ya, seperti virtualbox saya belum bisa jalan, dan yang sesuai niatan, oracle server malah belum diinstall, haha. Mungkin hari ini, besok, atau senin aja ngantornya, untuk ngoprek, dan siap digunakan untuk kerja komputernya. :-D

Oke, segini dulu oret-oretan kali ini. Moga gak males ngoret-oret lagi. Sehingga bisa nambah oret-oretan di tempat ini. Happy fasting… :-)

Go to Top