Ninja Hattori
Masih ingat dengan lirik lagu OST series anime Ninja Hattori? Yak, mendaki gunung lewati lembah, itu yang saya alami selama wikend ini. Dari Langsa, Medan, Kutacane, Blangkejeren, lalu balik lagi ke Banda Aceh, selama perjalanan saya seperti ninja hatori, karena memang jalannya naik turun gunung, jadi ya mendaki gunung lewati lembah.
Dimulai perjalanan dari Langsa ke Medan, itu nggak naik turun gunung sih, cuman jalannya belak-belok. Tapi nggak tau juga jalan yang abis langkat, apakah naik turun atau enggak, soalnya abis dari langkat ketiduran, bangun-bangun udah sampai medan, hehe…
Sesampainya di Medan, transit semalam untuk nginep di hotel. Nah, besok paginya langsung berangkat tembak Kutacane. Tapi jalannya itu lho, campur aduk. Dari yang bagus sampai yang jelek, dari yang naik sampai turun, sampai yang belak dan belok. Tapi subhanallah, pemandangan di jalan indah. Dari mulai berastagi, terus lihat gunung sinabung. Baru setelah masuk aceh tenggara jalan mulai datar, walapun samping kiri/kanan gunung, tapi jalanan datar, tidak banyak naik turun or belak belok.
Sampai daerah kutacane kami istirahat dulu untuk makan siang. Selesai makan langsung ke kantor ranting kutacane. Kesan di kutacane, o mak, panas juga yo kutacane, hampir sama kayak banda or langsa, padahal jauh dari pantai lho, tapi kok ya panas juga.
Saya cuma singgah bentar di kutacane. Perjalanan dilanjutkan kembali ke blangkejeren. Jalannya o mak, ekstrem. Naik turun, belak-belok, mana rawan longsor, ada yang berlubang, ada yang tinggal setengah, dan parahnya, pinggir jurang, dalam pula, o mak, serem euy. Maklum, jalanan yang dilalui termasuk dalam kawasan hutan lindung gunung leuser, jadi ya harap maklum, hehehe…
Nyampe di blangkejeren, o mak, duingin, karena terletak di lembah. Kami nginep semalem di rumah mas dewi, pegawai ranting blangkejeren. Esoknya, agak siangan gitu kami langsung balik ke banda aceh. Rute yang diambil yaitu dari blangkejeren tembak takengon, takengon tembak bireun, baru tembak banda aceh. Dari blangkejeren ke takengon, o mak, ekstrem parah, pemandangan indah, tapi bikin mual dan pusing, dan sudah kuduga, saya tumbang, alias muntah. Abis itu sampai takengon, selama jalannya serem, saya gak berani buka mata, hahaha…
Sampai takengon istirahat bentar untuk makan dan sholat. Abis itu langsung tembak bireun, dan lewat gunung lagi, aduh nggak bener nie. Sampai bireun istirahat bentar minum-minum dan makan snack. Lucunya temenku ada yang manggil temennya, anak outsourcing kantor cabang lhokseumawe. Anaknya cantik euy, masih muda pula, cuman sayangnya janda beranak satu. Tapi dari luar gak keliatan kalo itu janda beranak satu. Ada yang mau? hehehe…
Abis itu perjalanan dilanjutkan. Setelah singgah bentar di beurenun untuk makan malam, perjalanan langsung dilanjutkan ke banda aceh. Begitu naik mobil saya langsung merem, karena naik gunung lagi ke seulawah. Daripada kenapa-napa, mending merem aja dah, main aman, hahaha…
Dan benar saja, begitu buka mata ternyata sudah di banda aceh. Alhamdulillah, sudah tiba kembali di rumah. Hikmah dari perjalanan ini adalah, ternyata aceh itu luas, saking luasnya sampai masih banyak daerah yang tidak dapat sinyal komunikasi. O mak, serem euy, mana jaraknya jauh-jauh pula. Selain itu masih banyak jalan yang melalui gunung-gunung. Dan yang paling pasti, capek, o mak, walaupun menyenangkan, tapi kalau nginget perjuangannya, jadi agak mikir kalau kesana lagi. Tapi kita lihat nanti, hahaha…
kalo gunung seulawah sih ga ada apa2nya.. tapi ga tau juga kalo aku ke takengon lewat blang keujeuren apa bakal tumbang juga alias muntah?!