Ya, mungkin bagi rekan-rekan yang tinggal di pulau sumatera, terutama di sumatera bagian utara, seperti aceh, sumut, sumbar, dan sekitarnya, tanggal 11 April 2012 mungkin menjadi tanggal yang akan diingat. Kira-kira pukul 15.38 WIB, simeulu diguncang gempa hebat dengan skala 8.9 SR (Info pertama BMKG). Gempa ini berlangsung lumayan lama yang mengakibatkan munculnya warning tsunami.

Saat itu saya sedang berada di lantai 1 kantor saya. Kebetulan kantor saya tiga lantai. Ketika gempa mulai saya masih tenang di dalam bangunan, namun karena kok lama maka sayapun bergegas keluar gedung, walaupun saya tetap berjalan santai, nggak ikutan panik seperti pegawai yang lain, sampai lari-larian, karena kalau ikutan panik takut memperkeruh suasana. Padahal bukan itu, saya jalan santai karena belum tahu kekuatan gempanya seberapa besar.

Baru setelah saya sampai luar gedung baru terasa hebatnya gempa. Goyangannya cukup ngeri, hingga kita berpijak saja tidak bisa diam, kepala pun pusing. Gedung kantor 3 lantaipun bergetar, kaca-kaca kantor bergetar mengeluarkan suara keras. Kejadian lumayan lama. Setelah reda barulah ngecek keadaan kantor, pertama plavon lantai 3 rusak, tembok basement ke lantai 1 retak.

Baru dari situlah kepanikan terjadi. Karena gempa yang cukup dahsyat ini, otomatis orang-orang jadi teringat tsunami, karena gempanya juga kurang lebih sedahsyat ini. Orang kantor langsung bubar otomatis pulang menjemput keluarga untuk diajak ngungsi ke tempat yang lebih tinggi, maklum rata-rata orang banda aceh tinggal di dekat pantai, termasuk saya.

Selang berapa waktu aplikasi GempaDroid saya update memberitahukan gempa sebesar 8.9 SR. Dan menurut info yang beredar, sirine tanda bahaya tsunami berbunyi. Walhasil situasi makin panik. Saya dan beberapa teman bertahan di kantor. Karena pengalaman tsunami dulu kantor aman, walaupun airnya tetap sampai tapi hanya 0,5-1 meter, itupun hanya sisa-sisa. Sementara banyak orang yang berhamburan di jalan, rata-rata pergi ke arah lambaro, atau ke arah mesjid raya baiturrahman. Walhasil jalan macet sekali.

Telekomunikasipun susah dilakukan. Telkomsel yang terkenal paling luas jangkauannya ternyata sempat down, tidak bisa untuk berkomunikasi. Sementara Indosat saya berjaya, saya bisa komunikasi dengan keluarga menyampaikan kalau tidak apa-apa. Selang berapa waktu barulah telkomsel agak normal, agak karena tidak seratus persen bisa buat komunikasi, ada yang bisa ada yang enggak.

GempaDroid juga sering memberikan update-update gempa yang terjadi di Simeulu. Kebetulan ada rekan kantor yang sedang di simeulu, sudah memberikan kabar kalau sudah lari ke gunung. Rekan yang di meulaboh, nagan raya juga tidak apa-apa. Tapi kami tetap stay di kantor, tidak ikut panik lari di jalan, dan tetap waspada, belum berani pulang karena warning tsunami belum dicabut.

Tapi tidak begitu lama, pukul 17.43 WIB muncul lagi gempa yang tidak kalah dahsyat, info pertama BMKG melansir gempa dengan kekuatan 8.8 SR. Posisi saya kebetulan berada di lapangan tenis, itu seperti digoyang-goyang dengan kencang. Pagar kawat lapangan tenis pun bergoyang kiri kanan. Tiang lampu lapangan tenis juga tidak mau ketinggalan menari. Dan itu berlangsung lumayan lama juga.

Barulah di gempa kedua ini keadaan menjadi semakin panik. Bayangan akan terjadi tsunami semakin membayang di kepala, karena dua gempa dengan skala cukup besar terjadi dalam waktu berdekatan. Issue-issue yang berkembang menjadi tidak jelas. Ada yang mengatakan gelombang sudah naik hingga 6 meter, atau akan ada tsunami pukul sekian pukul sekian, serba tidak jelas.

Kami masih bertahan di kantor, kami stay di musholla sambil mengecharge handphone. Listrik padam semua, genset kantor terpaksa menyala. Kami mengecharge sambil siaga di kantor. Kami tidak berani mengecharge hape di gedung kantor, takut ada gempa susulan. Kami sepertinya sudah kayak pasrah kalau terjadi tsunami, stay di kantor saja.

Namun sampai abis maghrib issue yang berkembang tidak terjadi juga. Air belum naik, naikpun cuma berapa puluh cm saja. Akhirnya saya dan temen-temen bermalam di mess manajer bidang perencanaan setelah ditelpon beliau setelah gempa. Saya tidur di ruang tamu di lantai untuk berjaga-jaga, siapa tau ada gempa lagi, sementara teman yang lain tidur di kamar. Alhamdulillah sampai pagi tidak ada apa-apa walaupun gempadroid terus menginformasikan gempa susulan walaupun skalanya tidak sebesar dua gempa paling besar tadi.

Alhamdulillah saya dan rekan-rekan di kantor dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada cedera sama sekali. Walaupun harus tetap waspada, karena gempa masih terjadi. Bahkan sore ini barusan gempa terjadi juga di lampung. Mohon doa dari semuanya semoga bencana tsunami aceh, padang, dll tidak terulang lagi, aamiin…